contact
Test Drive Blog
twitter
rss feed
blog entries
log in

Selasa, 07 Februari 2012

Eeerr, halo lagi blog!

Terakhir bilang halo ke blog ini tanggal 1 November 2010, 4 hari sebelum ulang tahunku yang ke-19. Janjinya sih kemaren waktu nulis blog itu, aku mau terus update. Tapi janji tinggallah janji. Apalah dayaku~~

Cuaca panas di Medan buat aku pengen tidur-tiduran aja. Apalagi anginnya mendukung banget buat tidur siang. Tapi entah kenapa aku belum mau tidur. Aku mau nulis di blog-ku.

Jadi gini ceritanya. Aku tuh kan anak ke-2 dari 3 bersaudara. Nah, selama 3 hari ini aku jadi anak tunggal karena kakakku liburan sama temannya di Siantar, sedangkan adikku liburan sama temannya ke negeri seberang. Tinggallah aku sendiri, menjadi anak tunggal untuk sementara waktu.

Hari pertama jadi "anak tunggal" gak ada yang spesial. Aku menghabiskan siang hari bersama teman-teman di kampus untuk keperluan isi-mengisi KRS. Umumnya sih sama aja kayak hari-hari biasaku.

Nah, di hari kedua inilah aku keliatan banget kayak anak tunggal. Aku sama mama emang udah ngerencanain mau nongkrong-nongkrong di coffee shop. Tapi aku ngerasa kayaknya gak perlu sampai segitunya memberi servis pada si "anak tunggal" ini. Maka mama pun memberikan ide untuk sekedar makan pecal dan tahu goreng dan mengajak si papa. Semenjak pensiun, papa jarang keluar rumah, jadi bisa juga trip kecil ini jadi hiburan untuk papa.

Perjalanan dimulai dengan mengantar mama ke kampus untuk mengurus beberapa hal. Tinggallah aku dan papa berdua di mobil. Seketika aku mengambil Blackberry dari tas dan mengecek sinyal wifi yang ada. Yah, harap maklum, saya mahasiswa. Pulsa hanya datang di hari-hari tertentu, khususnya malam jumat kliwon. Papa pun memandang sekeliling kampus yang penuh akan mahasiswa yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Kemudian papa membuka pembicaraan mulai dari laptop hingga IP semester. Eeerr, suasana memang agak sedikit canggung. Aku dan papa tidak banyak berbicara.

Aku merasa sudah tidak terlalu dekat dengan papa belakangan ini. Dulu aku sangat dekat. Segala macam hal aku ceritakan pada papa. Hingga papa bingung, aku yang dulu pendiam kenapa mendadak menjadi lebih cerewet. Papa banyak berspekulasi kenapa aku menjadi sangat talkative. Mulai dari keanggotaanku di Paskibra sewaktu SMA sampai berpikir bahwa keahlian ini aku dapat dari kakakku, yang juga cerewet. Tapi sekarang aku merasa tidak secerewet dulu. Aku dan papa jarang berbicara. Kalau papa ganggu aku, aku diam aja, bahkan bisa berujung ke rasa marah. Entah kenapa, aku gak memberikan respon seperti dulu. Dulu ketika papa berusaha ganggu, aku pasti akan ketawa atau memonyongkan bibir. Kemudian papa pun akan tertawa melihat ekspresi bibir monyongku yang aneh dan terus menggangguku. Sekarang papa dan aku bicara jika ada hal yang dirasa perlu saja.

Ada hal yang berubah. Aku merasa, mungkin aku yang berubah.

Tidak berapa lama setelah pembicaraan yang cukup canggung itu, mama pun masuk ke mobil. Suasana sedikit agak hangat karena mama memang sering menjadi pencair suasana. Pembicaraan di mobil pun bervariasi, termasuk lah pertanyaan-pertanyaan mengenai arah jalan. Aku memang sulit untuk menghapal jalan, terutama jalanan di Kota Medan. Padahal aku sudah tinggal di sini selama 20 tahun, mulai dari aku lahir ke dunia ini.
Pemberhentian selanjutnya adalah tempat makan. Tidak banyak yang kami bicarakan ketika sedang makan. Aku jadi merasa seperti keluarga kerajaan Inggris yang sedang makan dengan terhormat dan tanpa suara.

Pemberhentian terakhir adalah sebuah bank yang menawarkan jasa pembayaran STNK mobil dan motor dengan drivethru. Dalam perjalanan menuju ke tempat tujuan, kami membicarakan banyak hal, mulai dari rencana libur mendadak hingga tentang perkuliahan. Mama berencana pergi ke kampungnya untuk suatu hal yang kecil. Aku bertanya dengan siapa mama akan pergi dan ternyata mama akan pergi berdua dengan papa naik mobil pribadi kami. Spontan saja aku menjawab ingin ikut karena di liburan singkat ini aku hanya duduk-duduk di rumah.

Aku bersyukur kepada Allah karena jika kakak dan adikku gak pergi liburan dan aku gak jadi "anak tunggal" untuk 3 hari, mungkin perjalanan ini gak akan pernah terjadi.
Mungkin mama hanya akan mengajak kami bertiga dan papa tetap tinggal di rumah karena beliau memang kurang suka menghabiskan waktu di luar rumah.
Mungkin jika tetap di rumah, aku dan papa gak akan pernah berbicara sebanyak ini.
Mungkin jika tetap di rumah, aku akan mendekam di dalam kamar, browsing internet atau sekedar baca novel yang aku pinjam dari temanku.
Mungkin papa hanya akan baca koran, atau baca buku, atau bahkan sekedar menonton tv.

Allah pasti sudah merencakan semua. Semua hal di semesta ini pasti sudah diatur-Nya sedemikian rupa. Semua punya porsi masing-masing. Semua punya kelebihan dan kekurangan. Dan hal yang paling penting, Allah pasti memberikan suatu peristiwa kepada umatnya agar mereka mengambil hikmah dari kejadian tersebut.

Terima kasih, Ya Allah atas perjalanan kecil ini :')


0

0 komentar:

Posting Komentar

Followers